Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Signal pasar memberikan dukungan kekuatan pengembangan peternakan



Sementara jumlah sapi semakin menurun secara nasional, beberapa negara sisi alami perkembangan. Barisan itu terhitung Iowa.

"Satu tahun lalu, Iowa ialah negara sisi sapi potong paling besar ke-3 belas dengan 2,8% dari temanan sapi potong nasional. Sekarang ini, Iowa tempati posisi ke-10 dengan 3,1% dari inventaris AS," kata Lee Schulz, ekonom marketing ternak Extension dengan Iowa State University. "Tiga belas ialah rangking paling rendah yang sempat ditempati Iowa, ada di sana pada 1 Januari 2011. Dalam 30 tahun akhir, Iowa sudah capai negara sisi sapi potong paling besar ke-9 sekitar 3x — di awal 1993 , 2016 dan 2017."

Ia menjelaskan beberapa angka itu memperlihatkan Iowa ada di ujung depan transisi harga.

"Temanan sapi potong ialah dasar dari keseluruhan inventaris ternak dan Iowa nampaknya pimpin ternak nasional sekitaran 2 tahun dalam transisi ternak sekarang ini," kata Schulz. "Temanan sapi potong Iowa paling akhir capai pucuknya pada 1 Januari 2017, pada 965.000 sapi potong dan menurun jadi 860.000 sapi potong pada 1 Januari 2021. Stok sapi potong AS capai pucuknya pada 1 Januari 2019, pada 31,691 juta ekor dan sudah belum capai dasar transisinya.

"925.000 sapi potong Iowa naik 7,6% dari tahun kemarin. Keuntungan 65.000 kepala ialah yang paling besar dari negara sisi mana saja. Idaho naik 34.000 kepala. Minnesota tumbuh 25.000 ekor. Ohio naik 20.000 sapi potong, naik 6,8% dari tahun ke tahun."

Lepas dari dinamika yang umumnya merekomendasikan pengembangan, tidak begitu hal dengan industri babi, kata Steve Meyer, konselor ekonom untuk Dewan Babi Nasional.



"Sinyalnya berada di sana," ucapnya. "Keuntungannya bagus. Laporan babi menjelaskan kita harus tumbuh. Tetapi ada banyak sekali halangan yang perlu dituntaskan untuk melakukan."

Halangan itu terhitung ongkos pakan dan material yang semakin tinggi dan perjuangan untuk cari karyawan.

"Saya berpikir kami menyaksikan ongkos yang semakin tinggi untuk waktu lama," kata Meyer.

Kontraktor bangunan sudah konsentrasi pada dasar tatap muka yang diamanahkan oleh undang-undang Asumsi 12 California, tapi Meyer menjelaskan itu dapat berbeda.

"Mahkamah Agung AS sudah sepakat untuk dengarkan kasus ini, tapi beritanya tidak sampai musim luruh ini," ucapnya. "Tetap, itu dapat perlambat konstruksi untuk penuhi dasar.

Ongkos pakan yang semakin tinggi menggerakkan impas ke $90-an yang tinggi berdasar karkas, kata Meyer.

Kemampuan pengepakan baik sekali, dan USDA sudah memberi kemudahan ke tiga pabrik untuk percepat pemrosesan. Meyer menjelaskan lima pabrik lain sudah ajukan kemudahan sama.


"Itu akan menolong kita keluar musim luruh ini," ucapnya.

Keinginan customer masih tetap kuat, yang memperlihatkan pengembangan tidak jauh. Export daging babi sudah melamban khususnya karena menyusutnya kegiatan dari China, kata Meyer.

"Keuntungan menjelaskan berkembang, tapi kami tidak menyaksikannya," ucapnya.

Schulz menjelaskan ada signal yang lain memberikan dukungan pengembangan di industri peternakan, terhitung nilai pasar.

"Nilai pasar sapi sebagai salah satunya factor yang memengaruhi taktik dan hasil investasi ternak," ucapnya. "Saat harga anak sapi naik, nilai sapi yang dibiakkan, sapi dara alternatif, dan hewan yang dihilangkan semua naik. Stock pembibitan akan dipasarkan pada harga semakin tinggi sepanjang sekian tahun di depan."


Keuangan harus juga jadi perhatian.

"Ternak sapi potong ialah perusahaan padat modal dan harus disaksikan sebagai investasi modal yang lain," kata Schulz. "Investasi awalnya pada sapi, sapi dara yang dibeli atau sapi dara alternatif yang dibesarkan di peternakan hasilkan saluran penghasilan masa datang dari pemasaran anak sapi yang memberi pengembalian investasi awalnya.

"Penghasilan pembasmian diakhir periode produktif sapi memberi nilai tersisa. Waktu saat Anda melakukan investasi mempengaruhi pengembalian karena transisi ternak mempengaruhi ongkos investasi dan penghasilan di masa datang."

Produsen sapi perlu memerhatikan ongkos pakan, sambungnya.

"Ongkos produksi atau pembelian pakan menyumbangkan sekitaran tiga perempat dari keseluruhan ongkos operasi dalam produksi anak sapi," kata Schulz. "Tipe dan ongkos pakan yang dipakai cukup bervariatif. Produsen bukan hanya menggembalakan sapi di padang rumput dan padang rumput, tapi juga di tempat yang dipakai khususnya untuk maksud lain.

"Misalkan, tersisa tanaman kerap digembalakan sesudah panen. Keadaan cuaca di Iowa enteng, terhitung minimnya susunan salju, sampai tengah Januari tahun ini dan ternak terus merumput di tangkai jagung, meminimalisir keperluan akan jerami tambahan. Di daerah lain, kekeringan dan keadaan penggembalaan yang jelek sebagai factor pemisah dan kemungkinan sudah menetralkan keuntungan ongkos apa saja."


Ia menjelaskan produsen biasanya akan menyikapi keuntungan, bukan harga.

"Harga harus naik cukup buat menyeimbangi peningkatan ongkos produksi. Bila harga kuat dan produsen mendapatkan untung besar, mereka ingin melakukan ekspansi," kata Schulz. "Mereka menjaga semakin banyak sapi untuk alternatif. Semakin sedikit sapi dara ke pasar sapi akan. Perlakuan itu sebetulnya menggerakkan harga semakin tinggi dalam periode pendek.

"Ini perkuat signal pengembangan - harga tinggi yang menggerakkan lebih beberapa keuntungan bawa semakin banyak pengembangan. Pada akhirnya, sapi-sapi itu jadi sapi, dan hasil panen anak sapi semakin bertambah besar."

Post a Comment for "Signal pasar memberikan dukungan kekuatan pengembangan peternakan"