Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PERUBAHAN IKLIM MEMBUAT LOGAM BARU PADA PENGENDALIAN GULMA KEDELAI


KONDISI PANAS DAN KERING DAPAT BERDAMPAK NEGATIF ​​HASIL KEDELAI BAHKAN DENGAN TINGKAT PENGENDALIAN GULMA.

Menanam tanaman dalam cuaca yang berbeda cukup susah, tapi saat factor gulma, hasil kedelai mendapatkan pukulan berat. Itu menurut riset baru dari University of Illinois (U of I) dan USDA Agricultural Research Servis (ARS). Ini memiliki arti petani perlu capai pengaturan gulma yang semakin besar dari mulanya untuk menghindar kehilangan hasil, kata beberapa periset.

Beberapa periset menganalisa beberapa faktor yang mengakibatkan lenyapnya hasil kedelai dalam kelompok data penilaian herbisida 26 tahun yang meliputi beberapa ratus lingkungan cuaca di Illinois. Pengaturan gulma musim akhir yang tidak mencukupi - kurang dari 76% - bertanggungjawab atas kehilangan hasil yang besar sekali sejumlah 41%. Dan saat kekeringan dan panas menerpa, bahkan juga pengaturan gulma tingkat tinggi (sampai 93%) tidak bisa menahan kehilangan hasil yang berarti.

"Anda membutuhkan pengaturan gulma yang nyaris prima untuk menghindar kehilangan hasil pada keadaan panas dan kering," kata Marty Williams, pakar ekologi USDA-ARS, profesor affiliate di departemen pengetahuan tanaman di U of I dan rekanan penulis study. "Sayang, kami banyak memiliki gulma yang bisa lolos di kedelai." (Artikel "Pengaturan gulma yang lebih buruk dan cuaca yang beralih-alih mengisyaratkan kehilangan hasil kedelai yang semakin besar di masa datang" diedarkan di Science of the Keseluruhan Environment.)


Walau penting, capai pengaturan gulma komplet dengan beberapa alat kimia yang ada makin susah, ingat bertambahnya frekwensi gulma yang menampik herbisida seperti waterhemp, palmer bayam, dan sebagainya.

"Kita harus bawa komunitas gulma sedekat kemungkinan dengan 0, tapi kita harus stop berpikiran cuma secara kimiawi," kata Aaron Hager, specialist gulma U of I Extension dan rekanan penulis study. "Kami tidak kebanjiran pasar berbahan aktif baru. Rumor perlawanan terus akan meningkat; itu tidak lenyap."

Tidaklah heran, riset ini mendapati dampak kombinasi dari pengaturan gulma yang tidak prima, panas, dan kekeringan yang paling memperberat pada pengisian benih.

"Tahapan pengisian benih yang peka terjadi di saat musim saat kita diprediksikan mempunyai temperatur yang lebih hangat dan kemungkinan beberapa resiko paling besar dari keadaan kering," kata Williams. "Ditambahkan lagi, gulma tertentu tumbuh subur pada keadaan semacam itu . Maka, ada argumen untuk cemas."

Christopher Landau, periset postdoctoral USDA-ARS dan penulis khusus makalah itu, menambah jika kekeringan sepanjang perkembangan vegetatif awalnya mengakibatkan kehilangan hasil.

"Walau tidak rawan seperti tahapan reproduksi, perkembangan vegetatif kedelai dikuasai oleh cekaman kekeringan dan kerusakan hasil yang berarti bisa terjadi bila cekaman cukup kronis," ucapnya. "Dalam riset kami, kekeringan yang berkelanjutan sepanjang tahapan awalnya perkembangan vegetatif mengakibatkan pengurangan hasil rerata 958 kg per hektar (14,2 gantang per hektar)."

Secara bersama, pola-pola ini memperlihatkan jika petani kedelai perlu capai tingkat pengaturan gulma paling tinggi selama musim.

"Secara tradisionil, kami beranggapan jika kedelai bisa tangani masalah gulma sedikit lama dibanding jagung," kata Hager. "Tapi ingat kekebalan dan saat ini data ini memperlihatkan dampak dari peralihan cuaca, kami terus mereferensikan petani kedelai memakai herbisida tersisa tanah yang diaplikasikan di tingkat memiliki label penuh."


HERBISIDA SAJA TIDAK AKAN MEMOTONGNYA

"Kami perlu pikirkan tehnologi lain, pilihan non-herbisida, yang bisa menolong kami coba menjaga tingkat kontrol yang tinggi dengan gulma yang resisten," kata Hager. "Sedikit herbisida yang diterapkan dengan daun yang hendak menuntaskan permasalahan ini . Maka, berikut peringatan Anda awalnya. "

Landau menjelaskan kedelai yang masak selanjutnya kemungkinan bermanfaat sebagai sisi dari taktik pengendalian gulma terintegrasi untuk kurangi resiko pengaturan gulma yang tidak komplet dalam cuaca yang lebih bervariatif. Analitisnya memperlihatkan jika barisan jatuh termin 3,6 dan semakin tinggi mempunyai rerata kehilangan hasil 16% semakin sedikit dibanding barisan jatuh termin awalnya.

"Mereka kemungkinan mempunyai keunggulan dibanding spesies tertentu karena kadang mereka berkompetisi lebih bagus untuk memperoleh sinar dan air," ucapnya. "Barisan kedewasaan di masa datang tidak menuntaskan permasalahan sendirian, tapi mereka adalah alat yang kemungkinan bermanfaat untuk menyesuaikan dengan peralihan cuaca."

Williams menulis jika petani nyaris tidak sanggup memikul kehilangan hasil, khususnya sekarang ini karena petani hadapi ongkos input yang belum sempat terjadi awalnya.

"Kita perlu menganekaragamkan langkah kita mengurus gulma, khususnya dengan naiknya ongkos herbisida dan bukti jika herbisida tak lagi efisien pada beberapa spesies," ucapnya. "Kami akan menyesuaikan atau menyesuaikan."

Post a Comment for "PERUBAHAN IKLIM MEMBUAT LOGAM BARU PADA PENGENDALIAN GULMA KEDELAI"