Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Peternakan Ayam Modern

Peternakan Ayam Modern

Industri peternakan modern khususnya pada ayam ras broiler (ayam pedaging) atau layer (ayam petelur) harus diberlakukan tidak seperti peternakan ayam tradisional di mana ayam bisa dilepaskan atau hanya cukup dikasih pakan atau minum. Peternakan ayam yang memiliki sifat industri harus diatur secara cermat, cermat dan pas dengan mengaplikasikan tehnologi maju yang berkembang di dunia. Performa ayam ras yang semakin berkembang baik dari sisi hasil produksi dan sanggup mengkonversikan pakan lebih efektif membutuhkan satu pengatasan atau management yang spesial, tidak dapat kembali memakai management biasa saja. Peternakan harus diatur seperti mengurus satu pabrik kekinian dengan hitung secara cermat input produksi, keproduktifan dan output yang dibuat terhitung lingkungan. Bahkan juga harus lebih bagus dari pabrik yang biasanya memiliki sifat fisik, industri peternakan ayam sebagai pabrik biologis yang hidup.

Rencana Lokasi dan Kandang Benar-benar Tentukan

Berlainan dengan pabrik secara umum yang disebut benda mati, ayam sebagai pabrik biologis hingga lokasi peternakan akan dibangun benar-benar tentukan. Ini dikenali dengan konsep biosekuriti yang disampaikan oleh Shane (1998) yang dipisah dalam 3 sudut pandang yakni Biosekuriti Konseptual, Biosekuriti Sistematis, dan Biosekuriti Operasional. Dalam sudut pandang Biosekuriti Konseptual, satu lokasi komplek peternakan harus memiara cuman satu spesies yang serupa (tidak digabung misalkan di antara itik dengann ayam atau broiler dengan petelur) dan jarak di antara komplek peternakan yang satu sama yang lain lumayan jauh (>1,5 km). Ini tentunya mempunyai tujuan untuk menahan masuknya bibit penyakit dari peternakan tetangganya.

Bukan hanya lokasi dengan peternakan lain, situasi keadaan peternakan ayam modern harus jadi perhatian seperti peluang migrasi atau masuknya hewan lain ke kandang. Masuknya burung-burung liar dan ayam-ayam lokal akan tingkatkan resiko penebaran penyakit. Bukan hanya burung, hewan pengerat khususnya tikus jadi satu permasalahan besar pada suatu komplek peternakan. Tikus yang masuk dari lingkungan sawah atau kebun bukan hanya bawa penyakit tapi juga makan pakan yang ada dalam kandang hingga banyak ditemui di atas lapangan, konsumsi pakan yang semakin tinggi dari semestinya.

Selain jarak antara peternakan, karena itu beragam usia ayam yang dipiara pada suatu komplek akan memengaruhi penebaran penyakit. Untuk peternakan broiler, seharusnya dipakai konsep satu usia yakni pada sebuah masa perawatan cuman ada satu usia. Untuk ayam petelur, baiknya cuman ada satu barisan usia, tapi pada saat tidak mungkin seharusnya lokasi perawatan pullet terpisah dari perawatan pada masa produksi.

Memang dalam tentukan lokasi farm dan tatanan letak kandang perlu diperhitungkan bukan hanya konsep biosekuriti penangkalan penyakit tapi juga pemikiran ekonomis dan tersedianya prasarana yang lain seperti air bersih, listrik, jalan, bahkan juga temperatur lingkungan. Banyak dijumpai di atas lapangan jika sumber air bersih sebagai masalah dalam peternakan ayam hingga performa produksi tidak maksimal.

Dalam ide Biosekuriti Sistematis, fasilitas dan prasarana kandang peternakan ayam modern benar-benar jadi perhatian. Pemagaran tempat kandang untuk menahan masuknya seseorang, pembetonan jalan atau disekitaran kandang, pekarangan kandang dan lain-lain harus jadi perhatian. Dan ide Biosekuriti Operasional tersangkut ada proses teratur yang perlu dikerjakan dalam perawatan ayam dalam rencana menahan masuknya bibit penyakit.

Telah banyak disampaikan dari lapangan jika rencana dan lokasi kandang akan menentukan kesuksesan peternakan dan memengaruhi keuntungan satu farm. Oleh karenanya, ini harus jadi perhatian bukan hanya untuk peternak yang hendak buka usaha peternakan tapi juga pemerintahan pusat dan wilayah. Pemerintahan semestinya memiliki ide tata ruangan untuk peternakan pada suatu wilayah hingga menolong usaha peternakan.

Unit Paling kecil ialah Ayam itu sendiri

Saat peternakan ditangani seperti mengurus pabrik, karena itu peternakan bisa dipandang seperti kelompok beberapa pabrik kecil pada suatu teritori hingga unit paling kecil ialah ayam itu sndiri. Dalam setiap ekor bisa terjadi proses produksi baik itu hasilkan daging atau petelur. Kemungkinan semakin lebih gampang memikirkan pada ayam petelur, tiap ayam petelur sebagai pabrik telur yang ditangani pada suatu proses produksi sehari-harinya untuk hasilkan satu butir telur. Proses produksi itu terjadi pada tubuh ayam secara biologis. Sebagai input produksi, ada zat nutrisi (gizi) yang dimakan tiap hari bertepatan dengan masuknya air minum dan oksigen dari udara. Pada tubuh ayam terjadi proses pencernaan pakan jadi zat nutrisi yang lebih simpel dan diserap lewat dinding usus untuk masuk ke darah. Zat nutrisi ini akan diatur kembali pada tubuh ayam untuk hasilkan telur dan saat malam hari telur ini dilapis oleh mineral (kalsium) hingga tercipta kerabang telur. Keesokannya pagi-pagi, telur yang telah dibuat akan dikeluarkan dari badan ayam. Itu proses produksi telur yang ditangani sepanjang 24 jam sehari-harinya, jadi badan ayam sebagai "mesin pabrik" dalam menghasilkan telur berbahan baku berbentuk pakan, air minum dan oksigen.

Proses produksi daging, dilaksanakan terus-terusan secara berkaitan hingga sesudah usia >30 hari dibuat seekor ayam. Bahan baku untuk proses produksinya ialah sama dengan ayam petelur, malah proses pencernaan pakan pada broiler bisa lebih cepat kembali. Sekitaran 4-6 jam sesudah ayam konsumsi pakan karena itu bisa terjadi pembongkaran atau penguraian bahan pakan jadi beberapa zat nutrisi yang lebih simpel seperti asam amino, glukosa, dan asam lemak untuk diserap dalam usus dan masuk ke darah. Proses pembangunan daging terjadi pada tubuh ayam di mana beberapa zat nutrisi di"masuk"kan kembali hingga jadi daging. Proses ini terus-terusan terjadi pada tubuh broiler sampai siap dipanen.

Jadi ide peternakan tak lagi seperti peternakan tradisionil yang tidak memerhatikan keperluan input produksi secara cermat dan ayam didiamkan untuk cari pakan sendiri. Ayam ras kekinian diperkembangkan sebegitu rupa hingga menajdi "mesin pabrik" pada suatu industri. Perlu disampaikan di sini jika pengertian industri ialah satu usaha atau aktivitas pemrosesan bahan mentah atau barang 1/2 jadi jadi barang menjadi yang mempunyai nilai lebih untuk memperoleh keuntungan. Industri sebagai satu agregat di mana proses produksi digerakkan secara efektif untuk hasilkan produk yang memberi keuntungan. Oleh karenanya, perlakukan ayam kekinian sebagai satu industri biologis.

Keperluan Biologis Ayam Harus Terpenuhi

Karena ayam dipandang seperti satu pabrik untuk hasilkan produk dalam masalah ini daging atau telur, karena itu seluruh keperluan ayam dalam masalah ini bahan baku dan proses produksi harus digerakkan dengan efektif. Keperluan bahan baku produksi ayam tidak cuma dari pakan tapi juga air minum dan keperluan oksigen supaya metabolisme pada tubuh ayam bisa jalan seperti mestinya. Untuk seorang nutritionis, keperluan pakan ayam diuraikan ke elemen zat nutrisi seperti energi, asam amino, asam lemak, vitamin dan mineral, hingga ada lebih dari 30 tipe zat nutrisi yang perlu diakui sebagai bahan baku produksi . Maka nutrisi yang diakui bukan protein atau energi metabolis saja. Beberapa zat nutrisi ini harus dihitung berapakah sering diperlukan untuk hasilkan 1 gr telur atau 1 gr daging. Jika zat nutrisi itu kekurangan karena itu hasil produksi tidak bisa diraih, tapi di lain faksi bila terlalu berlebih, zat nutrisi akan dibuang lewat kotoran atau air kencing ayam. Oleh karenanya, harus dihitung secara cermat supaya zat nutrisi yang dikasih ke ayam harus imbang (balance).

Selain bahan baku produksi berbentuk pakan, ayam memerlukan air minum karena proses pencernaan dan metabolisme pada tubuh ayam terjadi berbentuk cairan dan air sebagai bagian utama dalam prose produksi. Jika air yang tidak memenuhi atau ayam kekurangan air minum karena itu produksi tidak optimal. Malah di atas lapangan kelihatan jika konsumsi air minum sebagai tanda-tanda awalnya akan ada masalah pada ayam hingga pada akhirnya produksi tidak optimal. Sayang sedikit peternak yang menghitung konsumsi air minum ayam, walau sebenarnya perlengkapan untuk menghitung konsumsi air murah harga dan jumlah air minum benar-benar punya pengaruh dalam cuaca panas seperti Indonesia.

Peternakan Ayam Modern

Salah satunya "input" produksi yang lain yang perlu ialah oksigen. Pada proses metabolisme, proses oksidasi dan reduksi terjadi dalam sel badan ayam. Jika oksigen yang ada pada udara kurang karena sirkulasi kandang yang jelek atau tertekan oleh amonia atau CO2, karena itu ayam bisa kekurangan oksigen dan metabolisme terusik. Oleh karenanya, penting untuk memerhatikan transisi udara dalam kandang supaya metabolisme ayam jalan normal. Berikut yang menyebabkan performa ayam dalam kandang tertutup (closed house) biasanya lebih bagus dari kandang terbuka (open house). Perlu disampaikan di sini jika keperluan oksigen ayam berbeda pada proses perkembangan/produksinya, semakin besar ayam diperlukan oksigen yang makin tinggi karena tiap sel pada tubuh ayam terjadi proses metabolisme dan ayam semakin besar memiliki sel yang semakin banyak dari ayam kecil.

Perlu disampaikan di sini, proses produksi biologis dalm badan ayam akan dikuasai oleh temperatur lingkungan. Beberapa enzim yang berperanan dalam pencernaan dan metabolisme memerlukan keadaan bagus supaya bekerja dengan maksimal. Temperatur badan ayam harus dipertahankan sebegitu rupa supaya beberapa enzim bisa berperan dengan maksimal. Ini dikuasai oleh temperatur lingkungan di mana ayam dipiara. Temperatur lingkungan bagus untuk ayam dewasa ialah "termonetral" yakni sekitaran 22-24 oC, oleh karenanya disarankan supaya ayam dipiara sebegitu rupa supaya dekati temperatur baiknya. Tentunya untuk anak ayam dibutuhkan temperatur berlainan karena seperti bayi pada manusia memerlukan kehangatan.

Hal yang penting jadi perhatian dalam menyiapkan input produksi untuk ayam bukan hanya banyaknya tapi juga kualitas input yang ditempatkan ke badan ayam. Kualitas yang jelek, misalkan asam amino yang tidak dapat diolah oleh ayam karena itu input produksi itu tidak bisa digunakan untuk hasilkan produk. Demikian pula sama air minum, kualitas air minum perlu mendapatkan perhatian cermat karena kualitas yang tidak mencukupi seperti kelebihan mineral tertentu bahkan juga tercemar oleh bakteri (misalkan E. coli) bisa memengaruhi proses produksi pada tubuh ayam. Perlu disampaikan jika proses produksi yang semestinya maksimal pada tubuh ayam bisa terusik karena ada penyakit. Penyakit yang masuk ke badan ayam selain memengaruhi proses metabolisme dapat memengaruhi kecernaan beberapa zat nutrisi yang semula telah diakui dalam memberikan pakan, bahkan juga kontaminasi penyakit bisa memengaruhi kebal dalam mencegah masuknya bibit penyakit pada tubuh ayam.

Menghitung Efektivitas Sebagai Kunci Kesuksesan

Ingat peternakan ayam ( industri peternakan yang lain) seperti pabrik karena itu proses produksi harus dijalan secara efektif dalam beragam baris proses produksi. Pada konsepnya parameter yang paling tentukan ialah ongkos produksi paling rendah untuk hasilkan satu unit produk baik berbentuk 1 kg ayam hidup (atau bahkan juga 1 kg daging) atau 1 kg telur (atau 1 butir telur). Biasanya semakin baik performa produksi ayam karena itu ongkos produksi semakin rendah. Parameter untuk menghitung efektivitas pada broiler berlainan dengan layer. Pada broiler dikenali dengan European Economic Faktor atau Index Performa Produksi (IP). Dalam perhitungannya akan ditetapkan oleh berat tubuh ayam (dalam kg), usia untuk capai berat tubuh itu (dalam hari), alterasi pakan (FCR) dan daya hidup (100-kematian dalam %) dengan rumus IP = (Berat tubuh x daya hidup)/(FCR x usia) dikalikan dengan 100.

Nilai IP peternakan broiler di Indonesia benar-benar bervariatif antara peternakan yang ada, bahkan juga bervariatif antara kandang yang ada. Nilai yang jelek bisa dijumpai sekitaran 200 sampai yang terbaik capai 420. Ketidaksamaan nilai performa produksi ini benar-benar tentukan ongkos produksi, menurut penghitungan sekarang ini tiap 1 point IP bisa capai Rp 50. Oleh karenanya, bila satu peternakan peroleh nilai IP 420 dan peternakan lain cuman 250 karena itu beda IP sejumlah 170 point memberi nilai Rp 8.500 per ekor ayam. Nilai IP terbaik yang sempat disampaikan ialah dari perusahaan integrator di China yakni dengan IP 490.

Efektivitas produksi pada ayam petelur berlainan dengan broiler, efektivitas peternakan petelur bisa dipandang dari jumlahnya telur yang dibuat di dalam 1 ekor ayam (Hen House) yang dipiara. Semakin tinggi jumlah butir telur yang dibuat karena itu semakin efektif bila input produksinya sama. Karena dikuasai oleh input produksi khususnya pakan karena itu beberapa peternak condong memandang efektivitas produksi berdasar Alterasi Pakan yakni perbedaan di antara kg pakan yang diberi pada kg telur yang dibuat. Nilai yang terjadi di lapangan juga bervariatif dari FCR 2,0 sampai 2,4. Memang nilai FCR berbeda dengan usia ayam, tapi peternak bisa menilainya saat ayam petelur diafkir, apa rataan FCR sepanjang produksi bisa diraih atau mungkin tidak. FCR yang terbaik disampaikan dari Jepang ialah 1,90 saat ayam telah satu tahun berproduksi.

Efektivitas untuk hasilkan ongkos produksi rendah bukan hanya ditetapkan dari efisensi produksi, tapi juga dari ongkos input produksi. Ongkos produksi yang terbesar tentunya pakan yang kontributor bervariatif di antara broiler dan ayam petelur. Untuk broiler kontributor ongkos pakan dapat capai 65 % bergantung harga DOC dan harga pakan. Untuk ayam petelur dapat capai lebih dari 70 %, bahkan juga jika diakui dari kontributor pakan pada ongkos pullet karena itu kontributor pakan dapat capai 85 %. Input produksi yang lain ialah ongkos vaksin dan penyembuhan, dengan peristiwa semakin jumlahnya penyakit di atas lapangan karena itu ongkos vaksinasi dan penyembuhan bertambah dan pada akhirannya tingkatkan ongkos produksi. Selain ongkos pakan, DOC dan vaksinasi/penyembuhan, ongkos yang cukup berarti yang lain ialah penyusutan kandang. Bergantung tipe kandang yang dibikin, ongkos kandang menjadi kecil atau besar, kandang tertutup menyebabkan ongkos kandang semakin besar dari kandang terbuka, tapi bila diakui pada hasil produksi yang lebih bagus, karena itu kandang tertutup (bila diatur secara baik) akan memberi penghasilan yang lebih bagus.

Pada akhirannya arah dari peternakan unggas ialah cari keuntungan yang terbaik dengan mempertimbangkan performa produksi (efektivitas biologis) dan ongkos input yang ditempatkan. Atau hasilkan produk ayam dengan ongkos serendah mungkin. Tiap peternak harus mempertimbangkan secara cermat akan efektivitas produksi ini supaya bisa menjaga upayanya dan sanggup berkompetisi dengan peternak lain.

Beberapa Tips Peternakan Ayam Modern 

Saat melakukan usaha peternakan rasio industri yang berdasar satu pabrik biologis karena itu banyak hal penting yang perlu diingat untuk ditingkatkan efektivitasnya yakni :

1. Tata Letak Ruangan

Untuk yang hendak buka usaha peternakan ayam, seharusnya cari lokasi yang lebih terasing hingga memiliki jarak yang lumayan jauh dari peternakan yang lain. Ini sebagai konsep Biosekuriti Konseptual yang seharusnya ditangani. Lokasi dengan temperatur yang lebih dingin, dekati termonetral ayam yakni 22-24 oC sebagai temperatur bagus perawatan ayam. Tentunya temperatur harian akan berfluktuasi tapi rataan yang diperoleh seharusnya dekati termonetral ayam. Jika peternakan telah ada pada suatu lokasi yang kurang untung karena itu peralihan jadi kandang "closed house" akan menolong supaya situasi keadaan dekati keperluan ayam. Seharusnya pemda memutuskan tata ruangan untuk peternakan dengan mengaplikasikan konsep biosekuriti dan ini akan berguna dalam periode panjang.

2. Prasarana

Tentunya untuk melakukan usaha peternakan dibutuhkan fasilitas dan prasarana yang ideal. Tersedianya air minum yang bersih (dari sisi kimia dan mikrobiologis) akan menolong kesehatan ayam. Tersedianya listrik dan jalan akan menolong usaha peternakan digerakkan seperti mestinya. Kekurangan suplai listrik atau listrik yang kerap mati akan merepotkan usaha peternakan dan kurangi efektivitas usaha, walau sebenarnya untuk peternakan ayam ras kekinian, efektivitas sebagai kunci sukses. Kembali, peranan pemda benar-benar tentukan dalam menyiapkan prasarana untuk usaha. Jika bisa dibanding dengan Vietnam, karena itu pemda disitu malah melakukan tindakan pro aktif sediakan prasarana hingga ada investor yang ingin memberikan modalnya.

3. Tehnologi Produksi

Kesuksesan industri peternakan ayam cuman bisa diraih saat mengaplikasikan tehnologi maju yang berkembang di dunia. Tehnologi dari segi bibit ayam, gizi, pengaturan penyakit dan management perawatan sebagai satu kewajiban untuk diaplikasikan. Tehnologi yang berkembang di dunia telah ada dan tinggal mengaplikasikan saja, jadi tak perlu meningkatkan tehnologi sendiri dari sejak awalnya. Cukup hanya melakukan modifikasi atau mengadaptasinya karena itu kesuksesan peternakan ayam bisa dilaksanakan. Indonesia bisa belajar dari negara yang lain industrinya semakin maju atau negara pemroduksi khusus ayam di dunia seperti Brazil, Amerika Serikat bahkan juga negara tetangga seperti Thailand atau Malaysia yang susunan usaha peternakan ayamnya telah mapan.

Tehnologi dalam industri peternakan ayam semakin berkembang di bumi ini malah telah memasuki ke Industri 4.0 dengan beragam tandanya. Belakangan ini disampaikan jika satu usaha peternakan ayam petelur dibikin secara terpadu dengan komunitas tiga juta ekor yang ditaruh di dalam 17 kandang. Komplek peternakan didukung dengan pabrik pakan di lokasi dan pemrosesan/pengepakan telur. Pemakaian robot dalam kandang dan pengepakan telur jadikan peternakan yang efektif dan kurangi kontaminasi penyakit. Beragam sensor dipakai dan data yang dihimpun bisa diproses dalam BigData dan digunakan untuk ambil keputusan. Jika Indonesia masih bergelut dengan pengaturan penyakit yang semakin banyak atau perform yang jauh di bawah standard atau pengaturan harga dan kompetisi usaha karena itu customer akan bayar daging ayam dan telur tambah mahal dari negara tetangga seperti Malaysia.

4. Rasio Usaha

Peternakan Ayam Modern

Besarnya usaha peternakan ayam akan tentukan profit bisnis (economic of scale). Menurut pakar ekonomi ayam, usaha peternakan ayam itu ibarat industri computer, di mana kekuatan processor-nya semakin tinggi tapi harga semakin turun. Oleh karenanya, profit bisnis peternakan ayam tiap ekornya semakin kecil dan untuk menyeimbanginya supaya usaha masih tetap jalan, karena itu rasio usaha harus makin besar. Untuk peternak kecil, karena itu supaya jadi besar harus tergabung dalam barisan jika wujud koperasi tidak mungkin. Dengan bergerombol, karena itu rasio usaha semakin besar dan dapat mengalami perkembangan jadi usaha terpadu dan berkompetisi dengan perusahaan yang lain. Pemerintahan seharusnya menggerakkan dan memberikan fasilitas supaya terjadi koperasi atau usaha barisan hingga rasio usaha jadi besar dan efektivitas bisa dipertingkat. Usaha terpadu ini bukanlah monopoli saat banyak beberapa perusahaan yang lakukan usaha yang serupa hingga terjadi kompetisi yang lumrah.

5. Sumber Daya Manusia

Perubahan tehnologi dan usaha peternakan ayam agar dilaksanakan secara efektif dan memiliki daya saing, karena itu dibutuhkan sumber daya manusia yang oke. Pengajaran resmi baik di perguruan tinggi atau vokasi harus terus diperkembangkan untuk cetak tenaga berpengetahuan dan trampil. Masalah yang kerap ditemui di atas lapangan ialah ada "jarak" pengetahuan atau tehnologi yang berkembang di industri dengan ilmu dan pengetahuan yang berada di lembaga pengajaran atau riset. Banyak disampaikan jika industri peternakan memandang alumnus pengajaran masih tidak cukup mencukupi hingga mereka lakukan training sendiri di lingkungan kerjanya atau mengirim ke training yang lain. Dengan mengembangnya Industri 4.0 karena itu keperluan akan sumber daya manusia trampil benar-benar tentukan.

6. Cuaca Usaha

Untuk lebih memajukan peternakan ayam ras, masalah teknis saja kurang cukup, beberapa stakeholder khususnya pemerintahan harus membuat keadaan yang aman supaya industri peternakan semakin disukai dan memiliki daya saing dengan negara lain. Peraturan yang diambil harus menimbang beragam kebutuhan tapi yang terpenting ialah kebutuhan nasional keseluruhannya. Peraturan yang cuman mengutamakan satu barisan usaha dan bikin rugi customer harus dijauhi, karena customer produk unggas Indonesia besar sekali. Masalah dalam usaha seperti kompetisi usaha, keadilan dan yang perlu ialah peraturan yang selalu menggerakkan untuk tingkatkan usaha yang efektif supaya "pabrik ayam" bisa dirasa faedahnya untuk warga keseluruhannya dan jika kemungkinan berkompetisi di luar negeri.

Post a Comment for "Peternakan Ayam Modern "