Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Budidaya Sarang Burung Walet

Budidaya Sarang Burung Walet

Budidaya sarang burung walet jadi bintang usaha yang menggiurkan. Masalahnya satu kg sarang burung walet dipasarkan pada harga rerata Rp 8-10 juta. Di wilayah Kalimantan dan Sumatera, banyak petani yang berpindah jadi pemberbudidaya sarang burung walet dengan membuat rumah walet berbahan simpel.

Tidaklah aneh, sekarang ini Indonesia dikenali sebagai penyuplai paling besar sarang burung walet yang mayoritas di-export ke China. Export sarang burung walet Indonesia ke beragam negara di tahun 2018 terdaftar capai Rp 40 triliun

Berikut ialah serba-serbi budidaya burung walet diawali dengan riwayat singkat burung walet, sentral budidaya burung walet, beberapa jenis burung walet, faedah burung walet, syarat lokasi budidaya burung walet, dasar tehnis budidaya burung walet, hama dan penyakit burung walet dan sebagainya.

1. SEJARAH SINGKAT

Burung Walet sebagai burung pemakan serangga yang memiliki sifat aerial dan sukai melaju. Burung ini warna gelap, terbangnya cepat sama ukuran badan sedang/kecil, dan mempunyai sayap berupa sabit yang sempit dan lancip, kakinya benar-benar kecil begitupun paruhnya dan tipe burung ini tak pernah hinggap di pohon.

Burung walet memiliki rutinitas diam di gua-gua atau beberapa rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan memakai langit-langit untuk tempelkan sarang sebagai tempat istirahat dan berbiak.

2. SENTRA PERIKANAN

Sentral Peternakan burung puyuh terdapat banyak di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa tengah

3. JENIS

Kategorisasi burung walet ialah seperti berikut:

  • Superorder : Apomorphae
  • Order : Apodiformes
  • Famili : Apodidae
  • Sub Famili : Apodenae
  • Tribes : Collacaliini
  • Genera : Collacalia
  • Species : Collacaliafuciphaga

4. MANFAAT

Hasil peternakan burung walet ini ialah sarangnya yang dibuat dari air liurnya (saliva). Harga sarang burung walet relatif tinggi, karena bisa berguna untuk dunia kesehatan. Sarang walet bermanfaat untuk mengobati paru-paru, panas dalam, memperlancar peredaran darah dan menambah tenaga.

5. PERSYARATAN LOKASI

Syarat lingkungan lokasi kandang ialah:

  1. Daratan rendah dengan ketinggian maksimal 1000 m dpl.
  2. Wilayah yang jauh dari capaian dampak perkembangan tehnologi dan perubahan warga.
  3. Wilayah yang jauh dari masalah burung-burung buas pemakan daging.
  4. Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa sebagai wilayah yang paling tepat.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

  1. Persiapan Fasilitas dan Perlengkapan

  • Temperatur, Kelembapan dan Pencahayaan

            Gedung untuk kandang walet harus mempunyai temperatur, kelembapan dan pencahayaan yang             serupa dengan gua-gua alami. Temperatur gua alami sekitar di antara 24-26 derajat C dan                    kelembapan ± 80-95 %. Penataan keadaan temperatur dan kelembapan dilaksanakan dengan:

    • Melapisi plafon dengan sekam dengan tebal 2° Cm
    • Membuat aliran-saluran air atau kolam dalam gedung.
    • Memakai sirkulasi dari pipa wujud "L" yang berjaraknya 5 m satu lubang, dengan diameter 4 cm.
    • Tutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak kepakai.
    • Pada lubang masuk keluar dikasih penangkal cahaya yang berupa corong dari goni atau kain warna hitam hingga kondisi dalam gedung semakin lebih gelap. Situasi gelap lebih disukai walet.

  • Wujud dan Konstruksi Gedung

            Biasanya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariatif dari 10×15 m 2                    sampai 10×20 m 2. Semakin tinggi wuwungan (bubungan) dan makin besar jarak di antara                    wuwungan dan plafon, semakin baik rumah walet serta lebih dicintai burung walet. Rumah                    jangan tertutup oleh pohon-pohonan tinggi. Tembok gedung dibikin dari dinding berplester dan             sisi luar dari kombinasi semen. Sisi dalam tembok seharusnya dibikin dari kombinasi pasir,                    kapur dan semen dengan perbedaan 3:2:1 yang baik sekali untuk mengontrol temperatur dan                kelembapan udara. Untuk kurangi berbau semen bisa disirami air tiap hari. Rangka atap dan                penyekat tempat menempelnya sarang-sarang dibikin dari kayu-kayu yang kuat, tua dan                        bertahan lama, tahan lama, tidak gampang dikonsumsi retak. Atapnya dibuat dari darurat.                    Gedung walet perlu diperlengkapi dengan roving room sebagai tempat berputar dan resting                    room untuk tempat istirahat dan bersarang. Lubang tempat masuk keluar burung memiliki                    ukuran 20×20 atau 20×35 cm 2 dibikin pada bagian atas. Jumlah lubang bergantung pada                    keperluan dan keadaan gedung. Terletak lubang tidak boleh menghadap ke arah timur dan                    dinding lubang dicat hitam.

        2. Pembibitan

            Biasanya beberapa peternak burung walet lakukan dengan tidak menyengaja. Jumlahnya                         burung walet yang mengelilingi bangunan tempat tinggal digunakan oleh beberapa peternak                 itu. Untuk memancing burung supaya lebih banyak, pemilik rumah mempersiapkan tape                         recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada pula yang lakukan penimbunan jerami              yang hasilkan serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet.

    • Penyeleksian Bibit dan Calon Induk

                    Sebagai induk walet diputuskan burung sriti yang diupayakan supaya ingin bersarang                            dalam gedung baru. Langkah untuk memancing burung sriti supaya masuk ke gedung baru                     itu dengan memakai kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilaksanakan                     pada pukul16.00-18.00, yakni waktu burung kembali cari makan.

    • Perawatan Bibit dan Calon Induk

            Dalam usaha budidaya walet, perlu dipersiapkan telur walet untuk ditetaskan pada sarang                    burung sriti. Telur bisa didapat dari pemilik gedung walet yang lakukan "panen langkah buang             telur". Panen ini dikerjakan sesudah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur             walet diambil dan dibuang selanjutnya sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini             bisa digunakan untuk perbanyak komunitas burung walet dengan menetaskannya dalam sarang             sriti.

                1. Pilih Telur Walet

                    Telur yang dipanen terbagi dalam 3 jenis warna, yakni :

      • Merah muda, telur yang baru keluar kloaka induk berusia 0-5 hari.
      • Putih kemerahan, berusia 6-10 hari.
      • Putih pekat kehitaman, dekati waktu menetas berusia 10-15 hari.
        Telur walet berupa bundar panjang, ukuran 2,014×1,353 cm dengan berat 1,97 gr. Ciri-ciri telur yang bagus harus terlihat fresh dan jangan bermalam terkecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang bagus memiliki. kantung udara yang relatif kecil. Konstan dan tidak berubah dari tempatnya. Letak kuning telur harus ada ditengah-tengah dan tidak bergerak, tidak diketemukan bintik darah. Penetapan kualitas telur di atas dilaksanakan dengan peneropongan.

                2. Membawa Telur Walet

                    Telur yang didapatkan dari lokasi yang jaraknya dekat bisa berbentuk telur yang masih                        terbilang muda atau 1/2 tua. Dan telur dari jauh, seharusnya berbentuk telur yang telah                        dekati menetas. Telur diatur dalam spon yang berlubang berdiameter 1 cm. Spon                                    ditempatkan ke keranjang plastik berlubang selanjutnya ditutup. Guncangan kendaraan                        dan AC yang terlampau dingin bisa menyebabkan telur mati. Telur muda mempunyai                            angka kematian nyaris 80% dan telur tua lebih rendah.

            3. Penetasan Telur Walet

                1. Langkah menetaskan telur walet pada sarang sriti.

                    Di saat musim bertelur burung sriti datang, telur sriti ditukar dengan telur walet. Ambil                        telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue untuk menghindar kerusakan dan                            pencemaran telur yang bisa mengakibatkan burung sriti tidak ingin mendekaminya.                                Pergantian telur dilaksanakan di siang hari saat burung sriti keluar gedung cari makan.                            Seterusnya telur-telur walet itu akan dierami oleh burung sriti dan sesudah menetas akan                        diasuh sampai burung walet bisa terbang dan cari makan.

                2. Menetaskan telur walet pada mesin penetas

                    Temperatur mesin penetas sekitaran 40 ° C dengan kelembapan 70%. Untuk mendapat                            kelembapan itu dilaksanakan dengan tempatkan piring atau cawan berisi air pada bagian                        bawah rack telur. Diupayakan supaya air di dalam cawan itu tidak habis. Telur-telur                                dimasukkan ke rack telur secara rata atau mencatat dan tidak boleh bertumpang-tindih. 2x                     satu hari status telur-telur dibalik dengan berhati-hati untuk menghindar kerusakan                                embrio. Pada hari ke-3 dilaksanakan peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan                            yang embrionya mati dibuang. Embrio mati pertanda bisa kelihatan pada sisi tengah telur                     ada lingkaran darah yang gelap. Dan telur yang embrionya hidup akan seperti terlihat                            sarang laba-laba. Pembalikan telur dilaksanakan sampai hari keduabelas. Sepanjang                                penetasan mesin jangan dibuka terkecuali untuk kepentingan pembalikan atau isi cawan                        pengontrol kelembapan. Sesudah 13-15 hari telur akan menetas.

        3. Perawatan

  • Perawatan Ternak

           Anak burung walet yang baru menetas tidak dengan bulu dan benar-benar kurang kuat. Anak               walet yang belum sanggup makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto fresh) 3x satu            hari. Sepanjang 2-3 hari anak walet ini masih membutuhkan pemanasan yang konstan dan                   intens hingga tak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Kemudian, suhu bisa di turunkan 1-2                   derajat/hari dengan buka lubang udara mesin. Sesudah berusia ± 10 hari saat bulu-bulu telah               tumbuh anak walet dipindah ke kotak khusus. Kotak ini diperlengkapi dengan alat pemanas                   yang diletakkan ditengah-tengah atau sudut kotak. Sesudah berusia 43 hari, anak-anak walet               yang siap terbang dibawa ke gedung saat malam hari, selanjutnya dletakan dalam rack untuk               pelepasan. Tinggi rack minimum 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket segera                   dapat terbang pada esok harinya dan ikuti langkah terbang walet dewasa.

  • Sumber Pakan

        Burung walet sebagai burung liar yang cari makan sendiri. Makanannya ialah serangga-serangga         kecil yang berada di wilayah pesawahan, tanah terbuka, rimba dan pantai/perairan. Untuk                    memperoleh sarang walet yang memberikan kepuasan, pengurus rumah walet harus sediakan                makanan tambahan khususnya untuk musim kemarau. Cara-cara untuk mengasilkan serangga                ialah:

    • menanam tanaman dengan tumpang sari.
    • budidaya serangga yakni kutu gaplek dan nyamuk.
    • membuat kolam dipekarangan rumah walet.
    • menimbun buah-buah busuk di pelataran rumah.

  • Perawatan Kandang

        Jika gedung telah lama ditempati oleh walet, kotoran yang menimbun di lantai harus dibikin                bersih. Kotoran ini tidak dibuang tapi dimasukkan dalam karung dan diletakkan di gedung.

7. HAMA DAN PENYAKIT

  1. Tikus
    Hama ini makan telur, anak burung walet bahkan juga sarangnya. Tikus datangkan suara ribut dan kotoran dan air kencingnya bisa mengakibatkan temperatur yang tidak nyaman.
    Langkah penangkalan tikus dengan tutup semua lubang, tidak menumpuk barang sisa dan kayu-kayu yang hendak dipakai untuk sarang tikus.

  2. Semut
    Semut api dan semut gatal makan anak walet dan mengusik burung walet yang bertelur.
    Langkah pembasmian dengan memberikan umpan supaya semut-semut yang berada di luar sarang mengerumuninya. Kemudian semut disiram sama air panas.

  3. Kecoa
    Binatang ini makan sarang burung hingga badannya cacat, kecil dan tidak prima.
    Langkah pembasmian dengan menyemprotkan insektisida, jaga kebersihan dan buang barang yang tidak dibutuhkan dibuang supaya tidak jadi tempat persembunyian.

  4. Cicak dan Tokek
    Binatang ini makan telur dan sarang walet. Tokek bisa makan anak burung walet. Kotorannya bisa mencemarkan raungan dan temperatur yang diakibatkan mengusik ketenangan burung walet.
    Langkah pembasmian dengan ditendang, diamankan dan pengendalian dengan membuat aliran air disekitaran pagar untuk penghambat, tembok sisi luar dibikin licin dan dicat dan beberapa lubang yang tidak dipakai ditutup.

8. PANEN

Budidaya Sarang Burung Walet

Sarang burung walet bisa diambil atau dipanen jika kondisinya telah memungkinkannya untuk diambil. Untuk lakukan pemetikan perlu langkah dan ketetapan tertentu supaya hasil yang didapat dapat penuhi kualitas sarang walet yang bagus. Bila terjadi kekeliruan dalam menanen akan berpengaruh fatal untuk gedung dan burung walet tersebut. Ada peluang burung walet berasa tergangggu dan berpindah tempat. Untuk menahan peluang itu, beberapa pemilik gedung perlu ketahui tehnik atau skema dan waktu pemanenan. Skema panen sarang burung bisa dilaksanakan oleh pengurus gedung walet dengan cara-cara, yakni:

  • Panen rampasan

Langkah ini dikerjakan sesudah sarang siap digunakan untuk bertelur, tapi pasangan walet itu belum bertelur. Langkah ini memiliki keuntungan yakni jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan keseluruhan produksi sarang burung /tahun semakin banyak. Kekurangan langkah ini tidak bagus dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan. Keadaannya kurang kuat karena dipacu untuk terus-terusan membuat sarang hingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya juga melorot jadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak sanggup menyeimbangi pemacuan waktu untuk membikin sarang dan bertelur.

  • Panen Buang Telur

Langkah ini dilaksanankan sesudah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang selanjutnya sarangnya diambil. Skema ini memiliki keuntungan yakni dalam satu tahun bisa dilaksanakan panen sampai 4 kali dan kualitas sarang yang dibuat juga baik karena prima dan tebal. Adapun kekurangannya yaitu, tidak ada peluang untuk walet untuk menetaskan telurnya.

  • Panen Penetasan

Pada skema ini sarang bisa dipanen saat anak-anak walet menetas dan bisa terbang. Kekurangan skema ini, kualitas sarang rendah karena mulai hancur dan dicemari oleh kotorannya. Dan keuntungannya ialah burung walet dapat mengalami perkembangan biak dengan tenang dan aman hingga polulasi burung bisa bertambah.

Adapun waktu panen ialah:

  • Panen 4 kali satu tahun

Panen ini dilaksanakan jika walet telah betah dengan rumah yang ditempati dan sudah padat komunitasnya. Langkah yang digunakan yakni panen pertama dilaksanakan dengan skema panen rampasan. Dan untuk panen seterusnya dengan skema buang telur.

  • Panen 3x satu tahun

Frekwensi panen ini baik sekali untuk gedung walet yang telah jalan dan masih membutuhkan tambahan komunitas. Langkah yang digunakan yakni, panen tetasan untuk panen pertama dan seterusnya dengan skema rampasan dan buang telur.

  • Panen 2x satu tahun

Langkah panen ini dilaksanakan di awal pengendalian, karena maksudnya untuk perbanyak komunitas burung walet.

9. PASCAPANEN

Sesudah hasil panen walet dihimpun dalu dilaksanakan pembersihan dan penyortiran hasil dari yang didapatkan. Hasil panen dibikin bersih dari kotoran-kotoran yang melekat yang selanjutnya dilaksanakan pembelahan di antara sarang walet yang bersih sama yang kotor.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

  1. Analitis Usaha Budidaya

      Prediksi analitis budidaya burung walet di wilayah Jawa Barat tahun 1999:

  • Modal masih tetap
    • Gedung Rp. 13.000.000,-
    • Perbaikan gedung Rp. 10.000.000,-
    • Peralatan Rp. 500.000,-
    • Jumlah modal masih tetap Rp. 23.500.000,-
    • Ongkos penyusutan/bulan : Rp. 23.500.000,-:60 bln ( 5 th) Rp. 391.667,-

  • Modal Kerja
    • Ongkos Penyediaan
      • Telur Walet 500 butir @ Rp. 5.000,- Rp. 500.000,-
      • Transportasi Rp. 100.000,-
      • Makan Rp. 50.000,-
    • Ongkos Kerja
      • Piara kandang/bln@ Rp. 5000,- x 3 bln Rp. 15.000,-
      • Panen Rp. 20.000,-
      • Jumlah ongkos 1x produksi:Rp. 650.000,-+Rp. 35.000,- Rp. 685.000,-

  • Jumlah modal yang diperlukan di awal Produksi
    • Modal masih tetap Rp. 13.500.000,-
    • Modal kerja 1x Produksi Rp. 685.000,-
    • Jumlah modal Rp. 14.185.000,-

  • Kemampuan produksi untuk lima tahun 1 kali produksi :
    • sarang burung walet hasilkan 1 kg
    • sarang burung sriti hasilkan 15 kg
    • untuk satu tahun, 4 kali produksi, hasilkan :
      • sarang burung walet 4 kg
      • sarang burung sriti 60 kg
    • untuk lima tahun, 20 kali produksi, hasilkan :
      • sarang burung walet 20 kg
      • sarang burung sriti 300 kg

  • Ongkos produksi
    • Ongkos masih tetap /bulan : Rp. 23.500.000,-:60 bulan Rp. 391.667,-
    • Ongkos tak tetap Rp. 685.000,-
    • Keseluruhan Ongkos Produksi /bulan Rp. 1.076.667,-
    • Jumlah produksiRp.1.076.667:16 kg (walet dan sriti) Rp. 67.292,-

  • Pemasaran
    • sarang burung walet 1 kg Rp. 17.000.000,-
    • sarang burung sriti 15 kg Rp. 3.000.000,-
    • Untuk 1 kali produksi Rp. 20.000.000,-Untuk lima tahun
      • sarang burung walet 20 kg Rp. 340.000.000,-
      • sarang burung sriti 300 kg Rp. 60.000.000,-
      • Jumlah pemasaran Rp. 400.000.000,-

  • Break Even Poin
    • Penghasilan sepanjang 5 Tahun Rp. 400.000.000,-
    • Ongkos produksi sepanjang 5 th Rp. 1.076.667 x 60 bln Rp. 64.600.000,-
    • Keuntungan sepanjang lima tahun Rp. 335.400.000,-
    • Keuntungan bersih per produksi 335.400.000 : 60 bln Rp. 5.590.000,-
    • BEP 232.919

  • Tingkat Pengembalian Modal tiga bulan (1 x produksi)

    2. Deskripsi Kesempatan Agribisnis

        Sarang burung walet sebagai komoditi export yang berharga tinggi. Keperluan akan sarang                    burung walet di pasar internasional besar sekali dan masih kekurangan stok. Ini disebabkan                    karena masih tidak cukup jumlahnya budidaya burung walet. Disamping itu produksi sarang                walet yang sudah ada sebagai produksi dari sarang-sarang alami. Budidaya sarang burung walet           paling prospektif jika diatur secara baik dan intens.

Post a Comment for "Budidaya Sarang Burung Walet"